Selasa, 21 April 2015

Cerpen Siswa Pemenang FLS2N

Sore ini angin berhembus kencang. Daun pohon randu melambai riang. Wuusssss... angin berhembus lagi. Menerpa wajah seorang bocah laki-laki yang sedang terdiam duduk di atas bebatuan di pinggir sungai. Terdapat sebuah ember kosong di sampingnya. Celana sekolahnya tampak lusuh karena belum digantinya sedari pagi. Mata hazelnya memandang sekeliling. Hingga akhirnya matahari sore membuatnya menyipitkan mata.
Raka bergegas menuju tepian sungai untuk mengambil Wuwu yang telah dipasangnya tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Sebagian tangannya berada di dalam air. Ia menyusuri tepian sungai yang cukup jernih itu.
Duuggg
Kakinya menyentuh sesuatu. Itu pasti wuwu yang kupasang, pikirnya. Benar saja, ia mengeluarkan benda berwarna coklat kehitaman yang berbentuk agak lonjong. Benda itu terbuat dari anyaman bambu dengan simpul yang rumit dan melebar di kedua sisinya. Inilah wuwu. Wuwu itu handmade kakeknya sendiri. Kakeknya memang sudah lama bekerja sebagai pembuat wuwu dan pencari ikan di sungai. Karena sedang sakit dan harus beristirahat di rumah maka hari ini Raka menggantikan kakeknya untuk mencari ikan di sungai.
Terdapat ikan-ikan kecil berdesakan di dalam wuwu yang dipegang Raka. Ia langsung bergegas menuju ke tepian dan pulang ke rumah untuk mengantar Ikan Uceng nya ke Warung Bu Parmi. Di tengah jalan menuju rumah banyak tetangga yang mengerumuni sebuah rumah. Rumah yang hanya berjarak lima meter dari rumah Raka itu memang sudah lama kosong.
Mungkin ada acara syukuran, tapi... ucapnya dalam hati. Raka terus berjalan hingga menemukan sosok Ibunya di antara kerumunan itu.
“Ada apa sih Bu ? Kok ramai-ramai begini..” Raka yang tingginya hampir sama dengan ibunya berusaha berdiri di sampingnya.
“Ada tetangga baru dari Sumatera. Jadi tetangga-tetangga diundang untuk syukuran,” Raka mengangguk-ngangguk.
“Jadi, tetangga baru ya ? Orangnya gimana Bu ?” tanyanya antusias.
“Katanya mereka juga punya anak laki-laki seumuran kamu.”
“Wahh.. asik dong ! nanti aku bisa main sama tetangga baru,” wajahnya berubah menjadi sumringah.
“Ya sudah pulang dulu sana ! Nanti keburu sore,” Mendengar perintah ibunya, Raka hanya mengangguk dan berjalan menuju rumahnya.
Krekkk
Pintu kayu rumah Raka berderit. Matanya menyapu seisi rumah. Sunyi. Tentu saja, ibunya sedang pergi dan kakeknya mungkin sedang istirahat dan tidak mendengar deritan pintu pertanda Raka sudah pulang. Ia mulai melangkah dan masuk ke dalam. Ia lalu duduk di kursi kayu yang sudah rapuh dimakan usia sembari memasukkan ikan uceng yang tadi didapatnya ke dalam sebuah ember. Nantinya ikan-ikan ini sebagian akan dijual ke warung Bu Parmi dan sisanya akan dimasak oleh ibu Raka.
Hari semakin sore, ia bergegas menuju warung Bu Parmi untuk mengantarkan ikan uceng yang sebelumnya sudah dimasukkan ke dalam ember.
Tok  tok tok. Raka mengetuk pintu warung milik Bu Parmi. Selang beberapa menit sesosok wanita paruh baya berpakaian sederhana keluar membuka pintu sembari tersenyum ramah.
“Eh, kamu Raka. Mau mengantar ikan uceng ya ?” tanya Bu Parmi direspon oleh anggukan Raka.
“Ya sudah, sini ibu timbang dulu ya..” ucap Bu Parmi. Setelah menimbang dan menentukan harga Raka pulang kerumah.
Dalam perjalanan pulang terlintas di pikirannya tentang tetangga baru dari Sumatera itu. Ia penasaran, seperti apa mereka ? Dan yang lebih membuatnya penasaran adalah anak laki-laki dari keluarga pindahan itu yang katanya seumuran dengannya.
“Kira-kira anaknya sombong tidak ya ?” pertanyaan-pertanyaan tentang anak laki-laki itu terus bermunculan di pikirannya. Membuatnya semakin tidak sabar untuk melihatnya.
“Ibu sudah pulang belum ya ?” Raka mempercepat langkahnya. Banyak hal yang akan ditanyakan Raka pada ibunya tentang tetangga baru dari Sumatera itu.
Aroma bumbu dan asap menyambut Raka yang baru saja sampai di rumah. Tidak susah ditebak, pasti ibunya sedang memasak ikan uceng. Raka masuk dan langsung menghambur ke ruang dapur yang digabung dengan ruang makan. Didapati kakeknya sudah duduk di sana.
“Ayo duduk dulu. Kita makan,” ajak Ibu. Raka duduk disamping kakeknya. Begitu Ibunya duduk dan menaruh piring di meja Raka mulai berbicara.
“Gimana Bu, tetangga barunya ? Anak laki-lakinya ? Baik nggak Bu? Dia sombong ya? Suka main sepak bola ya ? Ramah nggak Bu ? Kira-kira satu sekolah sama Raka nggak  ?” pertanyaan Raka membombardir ibu yang akan mengambil nasi.
“Satu-satu dong ! Seperti dikejar tsunami saja. Kalau kamu mau tahu pasti lihat saja besok di sekolah. Katanya dia juga bersekolah di sekolah yang sama seperti kamu,” jawab ibu.
“Tumben kamu penasaran sampai seperti itu ?” tanya Kakek.
“Ya kan namanya juga penasaran. Memang Eyang nggak penasaran ?”
“Tapi kan tidak seperti kamu.”
Malam tiba. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Raka beranjak ke kamarnya. Dibuka tas sekolah lamanya yang sudah agak kotor. Dengan penerangan lampu 5 watt yang menyalur dari listrik milik tetangganya,ia mulai mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Tulisannya tidak begitu jelas terlihat karena minimnya penerangan. Angin malam berhembus melalui celah-celah dinding triplek kamarnya yang sudah berlubang di salah satu sudutnya. Sekilas terbayang lagi olehnya rumah yang ditempati oleh tetangga barunya.
Matahari mulai muncul dari arah timur. Raka mulai mengayuh sepedanya menuju sekolah yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Sebelumnya, seperti biasa ia telah memasang wuwu di pinggir sungai. Anak-anak di sekolahnya sebagian besar berangkat dengan menggunakan sepeda atau diantar. Adapula yang berangkat dengan berjalan kaki karena rumah mereka cukup dekat.
Di kelas sudah cukup ramai oleh anak-anak. Raka berlari kecil menuju bangkunya. Ia sudah tidak sabar menunggu bel masuk berdering. Penyebabnya tentu saja si tetangga baru itu. Katanya tetangga baru itu akan bersekolah di sini. Kelas mulai gaduh lagi karena tidak ada guru yang masuk untuk perwalian. Beberapa detik kemudian wali kelas kami masuk. Tapi dia tidak sendiri. Ada sesorang anak laki-laki berkulit kuning langsat di belakangnya. Tak lain dan tak bukan ia pasti anak laki-laki dari tetangga baru yang berasal dari Sumatera itu.
Setelah memperkenalkan diri anak yang ternyata bernama Togar itu duduk di samping Raka. Raka tersenyum ramah.
“Kamu pindahan dari Sumatera ya ?” tanya Raka.
“Iya. Namaku Togar.”
“Aku Raka. Aku tetanggamu loh..”
“Wah ? Kalau begitu boleh aku main ke rumahmu ?” tanya Togar antusias. Tentu saja Raka tidak bisa menolak.
“Tentu saja. Nanti sepulang sekolah kamu ikut aku saja,” Togar mengangguk.
Derasnya aliran sungai memekakkan telinga.
“Itu apa ?” tanya Togar agak berteriak karena suaranya tertutup suara aliran air sungai. Raka mengangkat wuwunya.
“Oh ini, namanya wuwu,” jawab Raka dengan suara yang keras pula.
“Wuwu itu apa ?”
“Ini alat untuk menangkap ikan. Lebih baik kita ke tepian, airnya terlalu deras. Suaramu tidak terdengar jelas Gar.” ajak Raka. Mereka berlari ke tepian dengan cepat walaupun tanpa alas kaki.
“Jadi wuwu itu apa ?” tanya Togar lagi.
“Wuwu itu alat untuk menangkap ikan tetapi secara tradisional. Ini eyangku yang membuatnya sendiri. Kerjaannya memang membuat wuwu dan mencari Ikan uceng di sungai ini. tapi, sekarang lagi sakit. Jadi, terpaksa aku yang mencari ikan,” terang Raka panjang lebar. Togar hanya mengangguk-angguk.
“Di Sumatera mana ada wuwu seperti ini. Makanya aku tidak tahu.” respon Togar. “Oh ya, berarti Eyang kamu hebat dong ! Anyaman simpul serumit ini bisa dibuat dengan mudah,”Raka menggeleng keras.
“Jangan salah Gar ! Eyangku juga susah membuatnya. Harus puasa dulu, cara mendapatkan bambunya pun bukan bambu sembarangan. Biasanya bekas sarang tawon dan bambu bekas untuk menyeberang di sungai..”
Karena sudah terlalu siang, Raka dan Togar kembali ke rumah Raka untuk menjenguk kakek Raka yang sedang sakit. Togar bukanlah orang pertama yang menjenguk kakek Raka. Para tetangga juga banyak yang menjenguk kakeknya untuk menunjukkan rasa simpati.
“Kenapa tidak dibawa ke puskesmas ?” tanya Togar saat akan pulang.
“Maklum lah, Eyang kan udah tua. Orangnya keras, dia tidak mau dibawa ke Puskesmas dari dulu,” Togar lalu berpamitan dan berjalan pulang ke rumahnya.
Waktu berganti waktu, hari berganti hari membuat persahabatan anatara kedua anak laki-laki yang penuh perbedaan itu semakin erat. Togar pun cepat sekali berbaur dengan budaya di tanah Jawa ini. Selain itu karena wuwu yang sering digunakan Raka, Togar menjadi ikut tertarik dan salut terhadap Raka yang bisa menghasilkan uang sendiri walaupun hanya dari sebuah wuwu. Itulah yang membuat Togar semakin bangga mempunyai teman seperti Raka.
Hari ini setelah pulang sekolah Togar mampir lagi ke rumah Raka untuk menjenguk Kakek. Tidak seperti biasanya, keadaan kakek melemah.
“Kalau Eyang mati sekarang, kamu mau melanjutkan pekerjaan Eyang ?” tanya Kakeknya tiba-tiba.
“Tapi..”
“Kamu harus jadi orang sukses walaupun cuma dari wuwu itu. Apa kamu bisa menepati janji ?”
“Bisa Eyang. Aku janji.” Tegas Raka yang mulai tak karuan pikirannya. Tak ada respon. Senyap. Hanya suara degup jantung Raka dan Togar yang terdengar samar-samar. Darah mereka berdesir lebih cepat. Tak terasa air mata mulai muncul dari mata mereka.
Bendera putih sudah dipasang di sisi kanan dan kiri rumah Raka. Para tetangga banyak yang melayat dan mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Raka. Togar duduk di samping Raka. Ia berusaha menguatkan sahabat terbaiknya itu. Ibu Raka duduk di depan jenazah ayahnya yang sudah tertutup kain putih. Para tetangga yang berkumpul dan memakai pakaian serba hitam terus menggumamkan doa-doa.
Matahari tidak secerah biasanya. Seperti hati Raka yang sedang mendung. Kedua bocah laki-laki itu duduk di atas batuan. Mereka membisu. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Angin sore berhembus kencang. Matahari mulai menghilang. Pertanda akan muncul hari esok yang lebih baik. Walaupun tanpa kakeknya. Walaupun tanpa sosok yang hebat di mata para tetangga. Tetapi, setidaknya ada yang mau berbagi beban dengan Raka. Sahabat terbaiknya, Togar.

Oleh : Larasati Dhanti

0 Komentar
Komentar
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Contact : admin@smpn3purbalingga.sch.id / dii@email.com